Para Peneliti Dunia Berlomba Selidiki Ras yang Paling Rentan COVID-19

Para peneliti dilaporkan mengumpulkan data genetik dari para pasien COVID-19

AKURAT.CO,
Para peneliti di seluruh dunia kini tengah bekerja keras untuk mengungkap apakah variasi DNA di antara manusia mempengaruhi seberapa rentan individu terhadap
Virus Corona
jenis baru. Untuk mengetahui hal tersebut, para ilmuwan dunia pun berupaya untuk meneliti pengaruh variasi gen kekebalan tubuh manusia terhadap virus
COVID-19
.
Mengutip laporan dari Science, South
China
Morning Post pada Selasa (31/2) menuliskan bagaimana para ilmuwan telah berlomba untuk melihat variasi dalam pengodean gen pada enzim pengubah angiotensin atau Angiotensin converting enzyme 2 (ACE2).
Sementara, enzim ACE2 sendiri diketahui adalah enzim yang terdapat pada permukaan luar sel dan berperan dalam mempengaruhi seberapa mudah
Virus Corona
dapat memasuki sel.
Tidak hanya itu, Science juga menjabarkan bagaimana para ilmuwan juga tengah berupaya untuk melihat perbedaan antigen leukosit manusia, yaitu gen yang mempengaruhi bagaimana sistem kekebalan merespon virus.
Untuk mengetahui berbagai variasi genetik kekebalan manusia terhadap SARS-CoV-2, para peneliti dilaporkan mengumpulkan data genetik dari para pasien
COVID-19
.
Dipimpin oleh Andrea Ganna, seorang ahli genetika dari Institute of Molecular Medicine Finland, para peneliti lantas membandingkan genetik dari pasien dengan infeksi ringan dan yang memiliki kasus parah.
Meski tujuan penelitian sudah jelas, yaitu untuk mengungkap genetik mana yang paling rentan terhadap
COVID-19
, tetapi Ganna menyebutkan bahwa hasil baru bisa diidentifikasi dalam beberapa bulan ke depan.
Namun, Ganna juga menerangkan bahwa timnya jelas telah melihat perbedaan besar antara pasien dari negara yang satu dengan yang lainnya.
“Kami melihat perbedaan besar dalam hasil klinis dan lintas negara. (Karenanya) Pertanyaan terbuka tentang kerentanan genetik lebih banyak bisa menjelaskan tentang hal tersebut,” ucap Ganna.
Senada dengan Ganna, Yosuke Tanigawa dan Manuel Rivas dari Universitas Stanford juga tengah mempelajari data dari UK Biobank untuk melihat antigen leukosit. Namun, dalam penelitiannya, kedua ilmuwan ini juga diketahui meneliti golongan darah untuk memahami peran genetika dalam infeksi
COVID-19
.
Dalam hasil laporannya, Tanigawa dan Rivas pun menemukan fakta bahwa pasien
COVID-19
dengan kondisi parah cenderung memiliki jumlah limfosit (sel darah putih) yang lebih rendah.
Karena temuannya tersebut, keduanya lantas menyimpulkan bahwa jumlah limfosit mungkin telah mempengaruhi kerentanan terhadap infeksi virus serta perkembangan penyakit.
Selain itu, keduanya juga menemukan fakta lain di mana orang dengan tipe darah O cenderung memiliki resiko lebih rendah terhadap ancaman virus
COVID-19
.
Temuan terkait dengan golongan darah dari Tanigawa dan Rivas itupun seakan mendukung penelitian lain yang dilakukan oleh tim pimpinan ilmuwan
China
, Jiao Zhao. Seperti diketahui sebelumnya, Jiao dan timnya sempat melaporkan hasil temuan yang menyatakan bahwa manusia dengan golongan darah O cenderung memiliki risiko yang lebih rendah terhadap tingkat infeksi parah
COVID-19
.
Sebaliknya, orang dengan golongan darah A diklaim mempunyai tingkat infeksi yang lebih tinggi dan cenderung memiliki koinfeksi yang lebih parah.
Namun, dalam melakukan penelitiannya tersebut, sampel Jiao dan timnya bisa dibilang masih kurang masif lantaran hanya mencakup pasien di daerah
China
. Pasalnya, Jiao menyebutkan bahwa untuk mengetahui hasil tersebut, timnya telah mengambil sampel darah dari 2.173 pasien dari tiga rumah sakit di
Wuhan
dan Shenzhen.
Jumlah dua ribu pasien tersebut tentu saja masih relatif kecil dibandingkan dengan penderita
COVID-19
di dunia yang saat ini sudah mencapai angka lebih dari 850 ribu orang. Meksi begitu, tidak bisa dimungkiri jika hasil penelitian Zhao dan timnya memiliki pengaruh signifikan untuk mengetahui faktor kerentanan manusia terhadap
COVID-19
.
“Ini adalah pengamatan pertama dari hubungan antara golongan darah ABO dan
COVID-19
. Namun, harus ditekankan bahwa ini adalah studi awal dengan keterbatasan,” terang Zhao.
Sementara, sejak muncul pada akhir Desember lalu, pandemi virus
COVID-19
telah menjalar hingga 203 negara dan wilayah di seluruh dunia. Bahkan, derdasarkan data terkini, Worldometer mencatat kasus total di seluruh dunia setidaknya sudah menyentuh angka hingga 858.892 pasien.
Dari hampir 900 penderita, sebanyak 42.158 orang dilaporkan meninggal. Sedangkan, kelompok dengan jumlah kasus infeksi terbesar saat ini dipegang oleh
Amerika Serikat
(188.578), Italia (105.792), Spanyol (95.923), dan
China
(81.518). []

Leave a Reply