Jangan Tolak Jenazah Korban Corona, Ridwan Kamil: Kita Harus Berempati, Jangan Tambahi Luka, Mereka Sudah Kehilangan, Mereka Butuh Dikuatkan

Ridwan Kamil mengajak masyarakat berempati kepada keluarga korban Covid-19.

AKURAT.CO,
Gubernur
Jawa Barat
Ridwan Kamil
mengimbau warganya agar tidak menolak pemakaman
Jenazah
orang yang terjangkit virus corona karena segala prosesnya sudah aman dan tidak akan menimbulkan penularan.
“Saya mendengar ada beberapa berita dimana pemakaman pasien-pasien
Covid-19
ini ditolak masyarakat dengan alasan takut virusnya menular. Itu (virus menular) tidak benar,” kata
Ridwan Kamil
dalam siaran pers di Bandung, hari ini.
Ridwan Kamil
memastikan perlakuan
Jenazah
sampai proses pemakaman sesuai protokol kesehatan yang dianjurkan Kementerian Kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
“Virus itu mati pada saat inangnya mati atau jenazahnya meninggal dunia. Itu artinya virusnya ikut mati. Rumah sakit sudah melakukan prosedur yang disarankan oleh WHO, sehingga sudah sangat-sangat aman,” katanya.
Ridwan Kamil
mengajak masyarakat berempati kepada keluarga korban
Covid-19
dengan tidak memberikan stigma yang akan memperdalam luka serta kesedihan.
“Kita harus punya rasa yang toleran, dan jangan menambah luka dengan stigma. Mereka sudah kehilangan, mereka butuh dukungan, butuh dikuatkan. Mari kedepankan rasa kemanusiaan, dengan merasakan apa yang orang lain rasakan,” ujarnya.
Prinsip utama pemulasaran
Jenazah
korban
Covid-19
di
Jawa Barat
adalah menghormati
Jenazah
, dan melindungi diri serta lingkungan dari infeksi. Dari prinsip tersebut, Dinas Kesehatan
Jawa Barat
menetapkan ketentuan umum pemulasaran
Jenazah
infeksius, khususnya
Jenazah
Covid-19
.
Pertama, memastikan
Jenazah
sudah didiamkan selama lebih dari dua jam sebelum dilakukan perawatan
Jenazah
. Kemudian, menerapkan kewaspadaan standar yakni memperlakukan semua jenis cairan dan jaringan tubuh
Jenazah
sebagai bahan yang menular dengan cara menghindari kontak langsung.
“Tidak mengabaikan etika, budaya, dan agama yang dianut
Jenazah
. Lalu, semua lubang-lubang tubuh ditutup dengan kasa absorben dan diplester kedap air. Petugas harus memastikan badan
Jenazah
bersih dan kering,” kata Kepala Dinas Kesehatan
Jawa Barat
Berli Hamdani.
Petugas maupun keluarga
Jenazah
yang ikut mengurus
Jenazah
harus mengikuti prosedur, seperti menggunakan alat pelindung diri. Menurut Berli hal itu dilakukan guna mencegah penularan.
“Setelah dimandikan dan dikafani atau diberi pakaian,
Jenazah
dimasukkan ke dalam kantong
Jenazah
atau dibungkus dengan plastik dan diikat rapat,” ucapnya.
“Jika diperlukan pemetian, maka peti
Jenazah
ditutup rapat. Pinggiran peti disegel dan dipaku atau disekrup sebanyak 4 sampai 6 titik. Peti
Jenazah
yang terbuat dari kayu harus kuat, rapat, dan ketebalan peti minimal 3 centimeter,” tambahnya.
Disinfeksi lingkungan pun akan dilakukan sebagai upaya pencegahan penularan. Alat medis, tempat persemayaman, sampai ambulans yang digunakan mengantar
Jenazah
ke rumah duka dan makam akan disemprot desinfektan.
“Sesudah proses pemakaman selesai, keluarga dan pelayat harus menerapkan protokol kedatangan sampai di rumah, seperti mencuci tangan sesuai prosedur WHO, segera mandi, dan tidak menyentuh barang apapun di rumah,” ujarnya.
“Semua prosedur dibuat untuk menghormati
Jenazah
, keluarga
Jenazah
, serta melindungi diri dan lingkungan dari penularan,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *