Kuatkan Petani dan Nelayan dalam Melawan Pandemi Corona

Ilustrasi Nelayan (Foto: Kompas.com)Pandemi corona mengguncang dunia. Tidak seorang pun menduga kehadirannya yang sangat cepat dan tiba-tiba.Keadaan s

Pandemi corona mengguncang dunia. Tidak seorang pun menduga kehadirannya yang sangat cepat dan tiba-tiba. Keadaan saat ini menjadi paradoks. Kita hidup di era globalisasi dan digitalisasi yang menuntut segala tindakan diukur dengan kecepatan. Namun, dalam sekejap waktu, semua orang sekarang harus berhati-hati. Ini sebuah konsekuensi logis ketika pandemi datang. Ada kekhawatiran terhadap badan. Informasi sebagai asupan otak yang menyebar cepat tidak terlalu dibutuhkan. Keakuratan dan poin utama sangat dinantikan.  Kita seperti kembali ke era-era konservatif sebelum digitalisasi. Berterimakasihlah kepada paradoks karena kita mempunyai waktu untuk merefleksikan eksistensi manusia dan kehidupan yang menyala. Manusia pulang ke asali, seperti bayi yang melihat dunia kali pertama dalam ketelanjangannya. Pandemi corona setidaknya memeras otak manusia untuk menghindari dua pukulan telak terhadap dunia kesehatan dan perekonomian. Pada kesempatan ini, saya akan membahas imbas terhadap sektor perekonomian. Beberapa akademisi dan ekonom mengungkapkan perkiraan umum bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini terkoreksi di bawah 5%. Sektor keuangan mencari solusi terbaik dari kemungkinan perputaran uang yang terganggu. Demikian juga sektor riil di mana partisipasi dan kontribusi masyarakat cukup banyak terlibat di dalamnya. Semua lini di sektor riil hampir terpukul akibat pandemi corona. Perindustrian dan perdagangan mendapat tekanan dari menurunnya aktivitas dan pergerakan lalu lintas barang dan jasa, sunyinya keramaian dari manusia. Mari melihat ke lini yang paling dekat dengan keseharian kita, yaitu orang-orang yang berprofesi sebagai pedagang kelontong, pembuat tahu-tempe, sopir angkutan umum. Kalangan menengah ke bawah sangat rentan akibat perubahan ini. Syukurlah, pemerintah akhirnya mengeluarkan kebijakan insentif untuk mengurangi tekanan akibat corona. KompasTV mengabarkan pada Kamis (2/4/2020) bahwa pemerintah menambah anggaran penanganan covid-19 sebesar 405,1 Triliun Rupiah dalam APBN, di mana sebagian dana akan dialokasikan untuk program pemulihan ekonomi nasional, jaring pengaman sosial, insentif perpajakan dan stimulus kredit usaha rakyat, pemenuhan kebutuhan pokok, pembebasan pembayaran listrik kepada pelanggan listrik 450 volt ampere, dan sebagainya. Kita berharap kebijakan tersebut terealisasi sepenuhnya. Kesedihan menjadi sahabat ketika mendengar curhat pelaku usaha kecil dan pekerja yang sekarang harus pasrah tidak mendapat pemasukan untuk mencukupi kebutuahan keluarga. Apakah masa ini menjadi yang buruk? Kita menyerahkan kemudi kepada pemerintah dan meyakini kapal akan kokoh melewati badai. Di atas itu semua, partisipasi masyarakat adalah keutamaan dan akar yang sangat menentukan kekuatan pohon besar. Ini bukan sekadar keniscayaan. Pandemi corona telah meletakan manusia kembali pada sesuatu yang asali. Anda diperintah untuk tetap di rumah dan tidak keluyuran, berkumpul di suatu tempat karena ini akan mempercepat penyebaran virus. Kita tidak terbiasa berdiam di rumah dalam jangka waktu yang panjang. Lantas, kondisi ini mengubah tingkah laku, cara berpikir dan bersikap orang-orang. Dan memang, kita harus berpikir radikal. Sebagai contoh, orang-orang mulai berpikir untuk kembali ke desa. Itulah asal manusia yang ternyata dianggap mampu menjauhkan kita dari wabah, walau kemungkinan penyebaran akan meningkat jika mudik dilakukan. Jika kehidupan sekarang sangat berubah, maka kita harus menempatkan bidang lain secara radikal pula seperti contoh mudik ke desa tadi. Kita mempunyai keunggulan dalam bidang pertanian dan kelautan. Hal yang sangat mendasar namun cukup masuk akal. Pangan menjadi persoalan pokok umat manusia dalam menghadapi wabah. Itulah sektor riil yang masih bisa kita berdayakan. Kita berangkat dari kebiasaan dahulu, bercocok tanam untuk kebutuhan pangan rumah tangga dan nelayan yang mengarungi laut memakai perahu tradisionalnya. Apapun itu, kita harus bekerja. Saya berpikir, kita memang harus memanfaatkan tanah dan air yang kita miliki. Sektor pertanian harus dikuatkan, utamakan kebutuhan pokok masyarakat. Ladang harus diluaskan, ikan-ikan yang berlimpah ditangkap untuk didistribusikan ke semua penjuru dalam negeri.  Inilah langkah optimis dan realistis. Toh, Indonesia yang kita kenal selama ini adalah negara agraris dan kelautan, apa yang harus dirisaukan jika menyangkut ketahanan nasional dan ketangguhan hidup masyarakat? Pola pikir yang mau kembali ke asali akan menentukan keberlangsungan peradaban kita ke depan.  Ketua Umum Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman ( GAPMMI ) Adhi S Lukman juga berujar dalam postingan di IG pribadinya beberapa hari lalu, bahwa setelah pandemi ini, pemerintah mencoba fokus untuk membangun industri hulu pertanian dan peternakan. Ini sebuah refleksi. Ketergantungan Indonesia pada impor bahan baku menjadi pukulan telak. Logis saja, negara lain tentu mendahulukan kebutuhan dalam negerinya untuk menghadapi pandemi ini. Pelajaran, pelajaran, inilah pelajaran yang sangat berharga untuk Indonesia. Mari mencintai pandemi corona. Kritik dan kewaspadaan adalah jalan untuk menuju Indonesia yang tangguh.  Saya sangat yakin, setelah pandemi ini akan banyak perubahan yang menyadarkan kita betapa sektor riil terutama di bagian UMKM sangat berperan sentral dalam denyut nadi ekonomi Indonesia.

Leave a Reply