Pasien Corona Meninggal di Jateng Bertambah 11, Begini Penjelasan Ganjar

Gubernur Ganjar menyebutkan terdapat keterlambatan laporan sehingga data pasien meninggal akibat virus corona yang diumumkan oleh pemerintah pusat berbeda dengan milik provinsi Jawa Tengah.

Bisnis.com , SEMARANG – Pemerintah Jawa Tengah menyebutkan data update pasien corona atau Covid-19 yang meninggal di Jawa Tengah hari ini, Jumat (3/4/2020) sebanyak 11 orang merupakan akumulasi yang belum terlaporkan. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memastikan lonjakan pasien positif corona yang meninggal bukan merupakan kasus 24 jam terakhir. “Bukan hari ini (Jumat, 3/4/2020) meninggal 11. Itu akumulasi sejak pertama. Kita juga kaget tadi membacanya. Maka setelah di clearance, tidak ada [kematian samai 11 orang dalam 24 jam terakhir di Jawa Tengah]. Itu akumulatif,” kata Ganjar. Korban yang terinfeksi virus corona dan akhirnya wafat tercatat memiliki riwayat perjalanan dari daerah episentrum di Indonesia maupun luar negeri.  “Ada banyak yang kejadian, misalnya mereka datang dari luar negeri di sana sudah sakit terus dibawa ke sini terus meninggal. Itu contoh saja,” katanya.  Berdasarkan data pemerintah pusat, Hingga Jumat (3/4/2020) Jawa Tengah telah terjadi 114 kasus positif Covid-19. Rincian, 85 pasien dalam perawatan, 11 sembuh dan 18 telah wafat. Pemerintah Jawa Tengah merinci lonjakan kasus akumulatif ini terjadi, pada 8 maret dimana ada dua kasus meninggal. Yakni satu perempuan berusia 59 tahun dan lelaki berusia 60 tahun. Kemudian 13 Maret perempuan 44 tahun. Pada 21 Maret laki-laki usia 77 tahun, 25 Maret laki-laki usia 22 tahun, 28 Maret laki-laki usia 65 tahun, 29 Maret laki-laki usia 70 tahun, dan 31 Maret laki-laki usia 62 tahun.  Selanjutnya pada 1 April ada tujuh pasien positif virus corona yang meninggal. Yakni lima laki-laki usia 64, 69, dan 45, 56, dan 43 tahun serta dua perempuan usia 67 dan 72 tahun. Terakhir pada 2 April ada dua laki-laki meninggal usia 64 tahun dan 73 tahun.  Pada 2 April juga ada satu lagi yang meninggal. Data di Dinkes Jateng masih berstatus PDP dengan hasil tes yang belum diterima. “Tapi kemungkinan besar positif,” kata Ganjar.  “Kalau dari catatan medis yang dilaporkan ke saya secara lisan mereka punya penyakit bawaan. Di rumah sakit lengkap laporannya,” kata Ganjar Ganjar juga menegaskan telah menerima laporan real-time dari jajaran Dinas Kesehatan setiap ada penambahan kasus. Namun untuk pasien wafat, pihak rumah sakit mesti melakukan clearance terlebih dahulu.   “Kalau kita sudah ada datanya. Pusat baru menginformasikan ini. Karena setiap ada yang meninggal mereka (rumah sakit) clearance dulu baru dilaporkan ke kita. Maka seringkali laporannya terlambat. Tidak otomatis ketika ada yang meninggal laporannya langsung masuk ke kita,” katanya. Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini : Virus Corona

Leave a Reply