3.500 Orang Diprediksi Jadi ODR Corona di Kabupaten Cirebon

3.500 Orang Diprediksi Jadi ODR Corona di Kabupaten Cirebon

  SUMBER, AYOBANDUNG.COM — Sedikitnya 3.500 orang yang mudik ke Kabupaten Cirebon digolongkan sebagai orang dengan resiko (ODR). Jumlahnya berpotensi bertambah. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kabupaten Cirebon Nanang Ruhyana menyebutkan, para pemudik yang tak memiliki gejala klinis akan dikategorikan sebagai orang dengan pemantauan (ODP). “(Pemudik) tanpa gejala klinis yang datang dari daerah terjangkit dengan transmisi lokal sperti Jakarta, Bekasi, Bogor, dan lainnya, kami masukkan ODR. Sedangkan yang punya gejala klinis kami kategorikan ODP,” katanya kepada Ayocirebon.com (Ayo Media Network), Sabtu (4/4/2020). Para pemudik berasal dari beragam kalangan, seperti para santri yang dipulangkan dari pesantren hingga pekerja migran Indonesia. Dia membuka kemungkinan jumlah 3.500 yang terdata sampai hari ini bisa bertambah kelak hari. Namun, pihaknya belum dapat memprediksi penambahan itu. Sesuai pedoman yang berlaku, ujarnya, ODR dibagi dua kelompok, masing-masing pelaku perjalanan dari negara/wilayah terjangkit Covid-19 dan pelaku perjalanan dari negara/wilayah transmisi lokal. Untuk pelaku perjalanan dari negara/wilayah terjangkit Covid-19 yang tak bergejala wajib melakukan monitoring mandiri ( self monitoring ) terhadap kemungkinan munculnya gejala selama 14 hari sejak kepulangan. “Setelah kembali dari negara/area terjangkit, sebaiknya mengurangi aktivitas yang tak perlu dan menjaga jarak kontak lebih minimal 1 meter dengan orang lain,” ujarnya. Sementara itu, pelaku perjalanan dari negara/wilayah transmisi lokal harus melakukan karantina mandiri di rumah selama 14 hari sejak kedatangan. Bagi warga negara asing (WNA) harus menunjukkan alamat tempat tinggal selama dikarantina. Informasi itu harus disampaikan saat kedatangan di bandara. “Selama masa karantina, seseorang harus tinggal sendiri di kamar yang terpisah, menghindari kontak dengan anggota keluarga lain, dan tak boleh beraktivitas di luar rumah,” paparnya. Meski diakuinya setiap orang dan daerah berbeda kultur, penerapan monitoring dan karantina mandiri memerlukan peran serta keluarga dan masyarakat, dan perangkat desa setempat harus mengedukasi serta memantaunya. “Petugas puskesmas otomatis memantau secara medis. Tapi tanpa peran serta semua komponen, karantina dan monitoring mandiri akan sia-sia,” tuturnya. Sementara, bagi mereka yang terkategori ODP, surveilans akan memantau kondisinya selama 14 hari, mulai munculnya gejala. Terhadap ODP, dilakukan pengambilan spesimen pada hari pertama dan kedu untuk pemeriksaan RT PCR. Sampai 4 April 2020, jumlah ODP di Kabupaten Cirebon 126 orang. Dari jumlah itu, 42 orang masih dipantau dan 84 orang lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *