BIN Perkirakan Juli Puncak Penyebaran Covid-19, DPR : Semua Wajib Masker!

Saleh mengatakan, berdasarkan prediksi Badan Intelijen Negara (BIN), puncak. Penyebaran akan terjadi pada bulan Juli yang mencapai lebih dari 100 ribu kasus.

Saleh Partaonan Daulay anggota Komisi IX DPR RI menjelaskan, penyebaran Covid-19 di Indonesia kelihatannya semakin merebak. Langkah-langkah dan kebijakan yang ditetapkan pemerintah belum menampakkan hasil. Di lain pihak, masyarakat semakin banyak yang resah. Saleh mengatakan, berdasarkan prediksi Badan Intelijen Negara (BIN), puncak. Penyebaran akan terjadi pada bulan Juli yang mencapai lebih dari 100 ribu kasus. “Kalau berkaca pada prediksi BIN, puncak penyebaran virus Corona adalah pada bulan Juli. Saat itu nanti akan tercatat 106.278 kasus. Dengan jumlah yang sekarang saja kita sudah kelihatan kesulitan, bagaimana nanti kalau prediksi itu benar terjadi,” ujar Saleh saat dihubungi suarasurabaya.net , Sabtu (4/4/2020). Untuk mengantisipasi itu, Saleh minta pemerintah untuk mengambil kebijakan alternatif. Kebijakan yang sangat sederhana tetapi mudah dilaksanakan dan tidak terlalu memakan biaya. Kebijakan itu adalah mewajibkan warga masyarakat untuk memakai masker setiap berada di luar rumah. “Di Ceko, masker diwajibkan. Ada kalimat yang dipopulerkan di sana, “ I protect you, you protect me “. Jika semua memakai masker, semua orang saling melindungi. Di sana, kewajiban memakai masker tidak hanya bagi orang sakit, tetapi juga bagi yang sehat,” jelasnya. Menurut dia, kewajiban memakai masker ini bisa diterapkan sebagai pelengkap atas kebijakan sebelumnya. Sebab, social distancing dan physical distancing yang ada di dalam Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tetap tidak efektif. Orang-orang masih keluar rumah dan masih berinteraksi sosial dalam bentuk kerumunan seperti sebelumnya. “Belum lagi, pemerintah tidak bisa dengan tegas melarang orang mudik. Kondisi ini tentu tidak dapat memutus rantai penyebaran covid-19,” jelasnya. “Kalau semua pakai masker, mereka yang terpaksa keluar rumah diharapkan terlindungi. Setidaknya, terlindung dari kemungkinan penyebaran akibat droplet. Kalau tidak pakai masker sama sekali, tentu tidak ada filter dan pengaman sama sekali. Setidaknya, masker adalah pengaman minimal yang mesti dipakai,” imbuhnya. Sejalan dengan itu, kata Saleh, pemerintah dituntut untuk menjamin ketersediaan masker di pasaran. Selain itu, harganya juga harus terjangkau oleh semua kalangan. Dengan begitu, kewajiban ini bisa ditaati. “Selain meminta industri untuk memproduksi secara massif, industri rumah tangga dan pekerja rumahan juga diminta berpartisipasi. Mereka tentu dapat memproduksi untuk kebetuhan terbatas di keluarga dan lingkungan sekitarnya,” pungkas Saleh. Sebelumnya Doni Monardo Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mengatakan, berdasarkan hasil kajian Badan Intelijen Negara (BIN), estimasi jumlah kasus pasien positif Covid-19 hingga akhir Juli bisa mencapai angka 106.278 kasus. Menurut dia, hasil kajian tersebut akurat. Bahkan, dalam slide presentasi yang dipaparkan dalam rapat virtual dengan Komisi IX DPR, Kamis (2/4/2020), tertulis akurasi prediksi jumlah kasus pada Mei mencapai 99 persen. Doni mengatakan bahwa dalam kajian BIN sebelumnya, diperkirakan akan ada 1.577 kasus Covid-19 pada akhir Maret. Dan dalam kenyataannya, terdapat 1.528 orang yang positif terinfeksi Covid-19. “Estimasi jumlah kasus di akhir Maret adalah 1.577 dan ini akurat,” kata Doni. Dia menjelaskan untuk kasus Covid-19 hingga April diperkirakan sebanyak 27.307 orang. Kasus tersebut mengalami lonjakan drastis pada akhir Mei yang diprediksi mencapai 95.451 orang. Sementara itu, untuk prediksi akhir Juni dan akhir Juli masing-masing diestimasi sebanyak 105.765 orang dan 106.287. Selain itu, dalam paparan yang disampaikan Doni, tertulis bahwa terdapat 50 kabupaten/kota prioritas dari 100 kabupaten yang memiliki tingkat risiko tinggi dengan 49 persen di antaranya berada di Pulau Jawa.(faz/ang/iss)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *