Jangan Keliru, Berjemur Ternyata Tak Bisa Bunuh Virus Corona

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM — Beberapa cara yang dapat mencegah penularan virus corona atau COVID-19, adalah mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air yang mengalir, menggunakan hand sanitizer jika tidak menemukan air, serta melakukan disinfeksi pada benda-benda yang sering disentuh banyak orang. 

Namun, satu cara lagi yang sekarang sedang tren dan dilakukan oleh banyak orang adalah berjemur di pagi hari, yaitu antara jam 8-10 pagi. Mereka meyakini, dengan berjemur mampu mematikan virus sehingga terhindar dari penularan COVID-19. 

Padahal anggapan tersebut keliru. Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr. Daeng M Faqih, virus tidak akan mati dengan berjemur. 

“Kalau begitu, makan di daerah yang panas kayak Saudi Arabia itu mati semua. Itu salah satu upaya supaya imunitas kita, daya tahan tubuh kita naik. Tapi jangan sampai terlalu percaya diri bahwa dengan berjemur semua virus akan mati,” ujarnya saat Press Breafing Online bersama Katadata Insight Center, dikutip dari Viva.co.id (4/4/2020).

Menurut Daeng, virus paling bertahan lama bukan di tubuh melainkan di tenggorokan. Virus akan bertahan hidup di tenggorokan, kecuali imunitas kita bisa melawan dan hal tersebut membutuhkan masa inkubasi selama 14 hari.

“Jadi jangan seperti berjemur, disemprot, itu kemudian mengatakan bebas virus. Enggak, itu hanya sebagian kecil saja, hanya 10 persen enggak nyampe yang nempel-nempel di badan. Yang mayoritas banyak itu ya tenggorokan manusia, dan itu bisa bertahan lama,” lanjut dia. 

Daeng melanjutkan, salah satu cara yang paling efektif untuk menghindari penularan virus corona adalah dengan menetapkan social distancing atau tidak bertemu dengan orang sama sekali, karena droplet dari orang tersebut, bisa menjadi sumber penularan untuk kita. 

“Menularkan secara langsung ke mulut kita, hidung kita atau droplet itu jatuh ke benda-benda kemudian benda itu kita raba-raba. Nah, tangan kita tidak dibersihkan, langsung nyentuh-nyentuh dan menyentuh bagian mata hidung dan mulut,” tutur Daeng. (*)

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM —
Beberapa cara yang dapat mencegah penularanvirus coronaatau COVID-19, adalah mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air yang mengalir, menggunakanhand sanitizerjika tidak menemukan air, serta melakukan disinfeksi pada benda-benda yang sering disentuh banyak orang.

Namun, satu cara lagi yang sekarang sedang tren dan dilakukan oleh banyak orang adalah berjemur di pagi hari, yaitu antara jam 8-10 pagi. Mereka meyakini, dengan berjemur mampu mematikan virus sehingga terhindar dari penularan COVID-19.

Padahal anggapan tersebut keliru. Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr. Daeng M Faqih, virus tidak akan mati dengan berjemur.

“Kalau begitu, makan di daerah yang panas kayak Saudi Arabia itu mati semua. Itu salah satu upaya supaya imunitas kita, daya tahan tubuh kita naik. Tapi jangan sampai terlalu percaya diri bahwa dengan berjemur semua virus akan mati,” ujarnya saat Press Breafing Online bersama Katadata Insight Center, dikutip dari Viva.co.id (4/4/2020).

Menurut Daeng, virus paling bertahan lama bukan di tubuh melainkan di tenggorokan. Virus akan bertahan hidup di tenggorokan, kecuali imunitas kita bisa melawan dan hal tersebut membutuhkan masa inkubasi selama 14 hari.

“Jadi jangan seperti berjemur, disemprot, itu kemudian mengatakan bebas virus. Enggak, itu hanya sebagian kecil saja, hanya 10 persen enggak nyampe yang nempel-nempel di badan. Yang mayoritas banyak itu ya tenggorokan manusia, dan itu bisa bertahan lama,” lanjut dia.

Daeng melanjutkan, salah satu cara yang paling efektif untuk menghindari penularan virus corona adalah dengan menetapkan social distancing atau tidak bertemu dengan orang sama sekali, karena droplet dari orang tersebut, bisa menjadi sumber penularan untuk kita.

“Menularkan secara langsung ke mulut kita, hidung kita atau droplet itu jatuh ke benda-benda kemudian benda itu kita raba-raba. Nah, tangan kita tidak dibersihkan, langsung nyentuh-nyentuh dan menyentuh bagian mata hidung dan mulut,” tutur Daeng. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *