Jemput Bola, Siasat Bisnis Kedai Makanan di Tengah Wabah Corona

Sejak pemerintah menyerukan untuk bekerja, belajar, dan beribadah di rumah. Aktivitas masyarakat menjadi terbatas. Akibatnya, banyak restoran dan kedai memilih tutup. Namun tidak untuk Iwan Kurniawan (24). Di tengah kondisi pandemi saat ini, pemilik kedai Warung Emak itu justru tetap buka.

Merdeka.com – ‘Warung Emak’ tengah terlihat tak seperti biasa. Bangku dan meja kosong menghiasi pemandangan yang biasanya ramai pembeli.
Kedai makanan dan minuman berlokasi di Desa Tridaya Sakti, Kecamatan Kabupaten Bekasi ini harus rela menelan pil pahit. Kedatangan virus corona atau Covid-19 di Indonesia telah membuat pelanggannya pergi.
Apalagi sejak pemerintah menyerukan untuk bekerja, belajar, dan beribadah di rumah. Aktivitas masyarakat menjadi terbatas. Tak terkecuali mereka yang ingin memanjakan perutnya.
Akibatnya, banyak restoran dan kedai memilih tutup. Namun tidak untuk Iwan Kurniawan (24). Di tengah kondisi pandemi saat ini, pemilik kedai Warung Emak itu justru tetap buka. Tentu dengan menyediakan fasilitas pencegahan virus corona sesuai standar pemerintah.
Sebagai antisipasi, dia bersama satu orang pegawainya selalu menyemprotkan cairan disinfektan di setiap ruangan. Pun, pada kursi dan meja makannya. Beberapa hand sanitizer juga disediakan agar konsumen tetap bisa menjaga kebersihan.
Iwan menyadari, meski jaring pengaman telah dilakukan, sebagian orang masih tetap takut datang ke tempatnya. Akibatnya omzet penjualannya turun hingga 30 persen. Jika dihitung-hitung, bahkan konsumen di tempatnya berkurang hingga 60 persen.
“Sangat berdampak sekali. (Omzet) jelas berkurang. Karena penurunan angka pendapatan kami sangat signifikan. Hampir setiap minggunya omzet kami menurun 10-30 persen,” kata Iwan kepada merdeka.com beberapa waktu lalu.
Tak ingin kehilangan konsumen dan pendapatan, pria kelahiran 1995 ini akhirnya memutar otak. Bagaimana caranya di tengah kondisi sekarang, kedai tetap bisa bertahan. Berbagai cara dilakukan. Mulai dari memberikan diskon disetiap menu, hingga berjualan secara online melalui grab food.
“Pastinya mau tidak mau kami hanya bisa mengandalkan via aplikasi online dan disitu juga kami harus menyusun strategi bagaimana caranya banyak orang yang singgah di aplikasi kami. Kami harus mengadakan diskon dan menu-menu terbaru setiap saat,” jelas dia.
Pria tamatan STM ini juga menawarkan sistem antar order atau pemesanan melalui akun media sosial Warung Emak. Menurutnya, cara ini bisa lebih menguntungkan dari sisi konsumen.
Sebab, masyarakat dapat memesan makanan yang dijual di tempatnya melalui website, kemudian pesanan akan diantarkan tanpa perlu datang langsung ke tempatnya.
“Untuk pemesanan delivery order bisa melalui WhatsApp atau pesan melalu Instagram @warung.emak tambun. Dengan cara seperti ini kami bisa menjemput bola lebih mudah, melalui relasi dan teman-teman kami untuk bisa order makanan atau minuman kami,” jelasya. 1 dari 1 halaman
Kirim Dekat Gratis, Jauh Bayar Ongkos Seikhlasnya

Sementara, untuk pembayaran pesanan, Iwan menggunakan sistem cash on delivery atau bayar saat pesanan datang. Namun, satu lagi strategi Iwan dimunculkan. Menariknya, Warung Emak tidak mematok biaya ongkos kirim kepada konsumennya.
“Delivery order tidak dikenakan biaya antar dengan jarak tempuh 2,5 km dari lokasi kami. Misalkan lebih dari jarak yang kami tentukan akan ada penambahan biaya antar,” kata Iwan.
Iwan mengatakan beberapa langkah tersebut diambil mempertimbangkan anjuran pemerintah, yakni melakukan physical distancing atau jaga jarak fisik demi menghindari penyebaran virus corona. Dia pun mengimbau dan menyarankan konsumennya untuk memilih jalur delivery order pesan lewat go-food.
Hal itu dilakukan juga untuk menjaga keselamatan dan kesehatan konsumen. Mengingat, berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Bekasi, per 3 April 2020 jumlah kasus positif corona di Kabupaten Bekasi mencapai 24 orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 15 orang dirawat, 5 sembuh dan, 4 meninggal.
Sementara itu, orang dalam pemantauan (ODP) mencapai 868. Jumlah itu teriri dari 620 orang dalam proses pemantauan dan sisanya 248 sudah selesai pemantauan. Sedangkan pasien dalam pengawasan (PDP) sebanyak 222 orang, terdiri 129 pasien dirawat dan sisanya 93 selesai dirawat.
“Untuk itu kami selalu imbau ke costumer kami, untuk selalu di rumah dan cukup order melalui aplikasi online atau delivery order,” kata dia.
[bim]

Leave a Reply