Kisah Perjuangan Perawat di Ruang Isolasi Covid-19, Antara Takut dan Kemanusiaan

Namun hal itu tidak menyurutkan semangat tenaga medis merawat dan memberikan dukungan moril pada pasien. Mereka tetap berjibaku di dalam ruang isolasi.

Liputan6.com, Padang – Berada di garda terdepan yang berinteraksi langsung dengan pasien positif terjangkit virus Corona Covid-19 , tenaga medis dihadapkan pada tingginya risiko terpapar pandemi tersebut.
Namun hal itu tidak menyurutkan semangat tenaga medis merawat dan memberikan dukungan moril pada pasien. Mereka tetap berjibaku di dalam ruang isolasi.
Liputan6.com pada Jumat (4/4/2020) malam berkesempatan berbincang dengan salah seorang perawat di RS Ahmad Muchtar Bukittinggi. Perawat itu bercerita soal suka duka merawat pasien virus corona Covid-19.
Kepala Penanggung Jawab Perawat Khusus Covid-19 RS Ahmad Muchtar Bukittinggi, Fatria menyebut yang menjadi buah pikiran baginya dan teman-teman adalah ketakutan terpapar virus.

Meski dengan APD lengkap, tidak menutup kemungkinan untuk terpapar. Hanya saja itu merupakan tugasnya sebagai perawat. Selain khawatir terpapar virus Corona Covid-19 , ia juga mengaku memiliki beban psikologi untuk berinteraksi dengan keluarga sepulang dinas.
“Saya membatasi diri dengan keluarga untuk sementara waktu, tapi masih tinggal di rumah ketika pulang dari rumah sakit,” ujarnya.
Beban juga bertambah di pundaknya ketika ia ditunjuk menjadi kepala penanggung jawab perawat lainnya. Upaya-upaya terus ia lakukan untuk meningkatkan kemampuan diri sendiri dan timnya agar kemungkinan terpapar dapat diminimalisir.
“Kami lakukan pembelajaran terus bagaimana menggunakan APD yang benar sesuai protokol, atau membersihkan diri setelah dinas,” ujar Fatria.
Ia mengaku keadaan yang cukup berat dirasakannya bersama teman-teman perawat yang lain, saat virus Corona Covid-19 mulai mewabah di Sumbar sekitar dua minggu yang lalu.

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini . 2 dari 3 halaman APD Menipis Kepala Penanggung Jawab Perawat Khusus Covid-19 RS Ahmad Muchtar Bukittinggi, Fatria saat diwawancarai secara online “Ketakutan pasien yang disampaikan kepada kami juga menjadi dilema tersendiri,” sebutnya.
Bahkan, ia bercerita teman sejawatnya ada yang sampai menangis melihat pasien yang diisolasi.
“Namun sejauh ini kami melaluinya dengan lancar dan banyak sekali pengalaman,” katanya.
Untuk penanganan virus Corona Covid-19 di RS Ahmad Muchtar saat ini terdapat 21 perawat yang dibagi dalam tiga shift. Perhatian rumah sakit juga baik kepada tenaga medis.
“Kami hingga saat ini masih semangat, dukungan dari berbagai pihak adalah salah satu pendorongnya,” sebut dia.
Fatria menyebut saat ini stok APD di rumah sakit tempat ia berdinas mulai menipis. Bantuan dari beberapa pihak belum mencukupi karena pasien yang dirawat cukup banyak.
“Jika APD tidak ada, kami juga tidak mau konyol masuk ke ruang isolasi,” ucapnya.
Sebagai penanggung jawab, ia harus memastikan semua anggotanya mendapatkan fasilitas memadai.
Fatria juga bercerita soal susahnya bekerja dengan APD lengkap. Panasnya baju dan masker kedap udara yang dikenakan membuat geraknya menjadi terbatas.
“Kadang-kadang sampai sesak napas memakai APD, namun tidak masalah,” katanya.
Kemudian ia juga mengucapkan terimakasih kepada orang-orang baik yang sudah mengirim dukungan semangat kepada tenaga medis. Banyak masyarakat yang mengirim vitamin dan makanan untuk mereka.
“Ketika ada yang mengirim makanan, dilampirkan dengn secarik kertas yang berisi kata-kata untuk menyemangati kami,” Fatria mengungkapkan. 3 dari 3 halaman Simak Video Pilihan Berikut Ini: Alhamdulillah, 2 Pasien Virus Corona Covid-19 di Banyumas Sembuh

Leave a Reply