Penderita Covid-19 Tetaplah Saudara Sebangsa

RADAR JOGJA Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dapat menjadi momentum untuk merawat persatuan bangsa. Pemerintah dan segenap kekuatan bangsa dapat

RADAR JOGJA Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dapat menjadi momentum untuk merawat persatuan bangsa. Pemerintah dan segenap kekuatan bangsa dapat bekerjasama.
Jika semua pihak memiliki political will atau niat yang kuat disertai ikhtiar optimal secara bersama-sama, beban seberat apapun dapat dihadapi dan disangga dengan lebih ringan, tutur Guru Besar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir kemarin (3/4).
Situasi saat ini, dinilai tepat untuk merealisasikan gotong-royong sebagai keluarga besar sebangsa. Haedar memaklumi, dampak dari setiap musibah selalu dirasa berat. Namun, keikhlasan dibarengi kesungguhan mencari jalan keluar akan menemukan solusi. Meskipun tidak ideal, sebutnya.
Dalam suasana seperti ini, sebaiknya mengedepankan kerjasama dan tidak saling menyalahkan. Harus menerima kritik dan masukan dengan lapang hati agar masalah dapat terpecahkan. Jika tidak dapat memberi jalan keluar, sebaiknya saling menahan diri untuk tidak menambah berat masalah, tuturnya.
Penderita Covid-19 baik yang tengah dirawat atau meninggal tetaplah saudara sebangsa. Karenanya, tidak sepantasnya ditolak. Mereka yang dikarantina atau melakukan karantina mandiri, telah mengikuti protokol dengan melakukan jarak sosial, ujarnya.
Haedar mengimbau masyarakat untuk menunjukkan sikap positif. Masyarakat harus tetap menjaga solidaritas, empati, dan simpati demi persaudaraan berbangsa. Mereka tidak menghendaki itu, apalagi bagi tenaga kesehatan yang telah melakukan bakti, katanya.
Sikap berlebihan, disebut Haedar tidak menunjukkan sikap budi mulia. Padahal solidaritas sosial Indonesia, selama ini menjadi kebanggaan bangsa. Dipahami, masyarakat tidak ingin tertular Covid-19, tapi berpesan agar jangan panik. Bentuk dari sikap sosial kita itu positif yang religius, jelas Haedar.
Sebelumnya, Kepala Desa Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul menyiapkan tiga rumah karantina. Salah satunya adalah Gedung Semaul atau Gedung Putih yang terletak di jalan Samas. Rumah tersebut telah menampung satu keluarga yang beranggotakan lima orang. Keluarga tersebut baru mudik dari Bandung. Kemudian saat kembali (ke Sumbermulyo) mendapat penolakan warga, kami mediasi dan kami tamping, jelas Ani Widayani. (cr2/bah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *