Sempat Dibully di Medsos, Pasien Corona di Kaltim Ini Bagikan Kunci Kesembuhannya

Pasien di Balikpapan, Kalimantan Timur, yang kini telah dinyatakan negatif virus corona (Covid-19) mengaku sempat mendapat perlakuan diskriminatif. Meski begitu, ia membagikan kunci kesembuhan bagi pasien lainnya.

COVID-19 di Indonesia

Pasien di Balikpapan, Kalimantan Timur, yang kini telah dinyatakan negatif virus corona (Covid-19) mengaku sempat mendapat perlakuan diskriminatif. Meski begitu, ia membagikan kunci kesembuhan bagi pasien lainnya.

Tim WowKeren

Apr 4, 2020

WowKeren –
Pandemi virus corona (Covid-19) kian meluas di Indonesia. Per Jumat (3/4) kemarin, jumlah pasien yang dinyatkan positif terjangkit Covid-19 di Tanah Air telah mencapai 1.986 orang.

Meski hingga kini vaksinnya belum ditemukan, Covid-19 sendiri bukannya tidak mungkin untuk disembuhkan. Di Indonesia, sudah ada 134 pasien corona yang dinyatakan sembuh.

Pasien positif Covid-19 di Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), Muhammad Wahib Herlambang, lantas membagikan kisahnya hingga kini dirinya telah dinyatakan negatif. Sebelumnya, ia dinyatakan positif terjangkit corona pada 18 Maret 2020 lalu. Melansir Kompas.com , Wahib menjalani perawatan di ruang isolasi di RSUD Kanujoso Balikpapan.

Wahib mengungkapkan bahwa dirinya sempat mendapat perlakuan diskriminatif usai dinyatakan positif corona. Kala itu, tutur Wahib, ada oknum yang merekam rumahnya di Kompleks Perumahan Sepinggan Pratama dan membagikan videonya ke media sosial.

Sayangnya, video tersebut mendapat komentar miring dari warganet. Video tersebut bahkan membuat warga perumahannya ditolak ketika hendak memesan ojek online.

“Video itu masih saya simpan sampai sekarang,” ungkap Wahib dilansir Kompas.com pada Sabtu (4/4) hari ini. “Kasihan masyarakat yang di Perum Sepinggan Pratama, justru kena.”

Ia pun berharap agar pasien corona lainnya tidak mendapat bully -an seperti yang dialaminya. Ia juga meminta agar masyarakat menyaring informasi hoaks terkait corona dan tidak menyebarkan rasa keresahan atau ketakutan.

“Sistem imun tubuh bisa memastikan itu, asal kita hidup sehat,” tegas Wahib. “Ini memang perlu edukasi. Situasi yang kami alami ini memang luar biasa, tekanan mental yang kami hadapi.”

Karena merasa tak enak hati akibat sikap diskriminatif tersebut, Wahib sempat meminta maaf kepada pemilik perumahan. Ia menghubungi pemilik perumahannya kala masih dirawat di ruang isolasi. “Respons pemilik perumahan justru baik, dia beri semangat saya agar cepat sembuh,” jelas Wahib.

Selain itu, Wahib juga meminta agar istri dan ketiga anaknya tabah menghadapi situasi ini. Ia bahkan melarang keluarganya untuk membuka media sosial karena khawatir berita yang beredar bisa menimbulkan rasa stres.

“Kebetulan di rumah kami enggak pakai televisi. Jadi istri saya juga tidak mau update informasi seputar corona biar pikiran tetap tenang,” ujar Wahib. “Saya minta, dia (istri) fokus ke anak-anak saja.”

Warga perumahan Wahib sendiri justru memberikan dukungan kepadanya dengan cara mengirimkan makanan. “Warga di situ baik-baik. Kata istri saya, kami dikirimi makanan, sayuran. Disimpan depan rumah. Warga Sepinggan Pratama luar biasa,” tutur Wahib.

Setelah dirawat di ruang isolasi selama 16 hari, Wahib dinyatakan sudah negatif Covid- 19 pada Jumat (3/4) kemarin. Meski demikian, Wahib masih akan diobservasi selama 1 minggu sebelum diizinkan pulang.

Wahib lantas membagikan kunci kesembuhan bagi para penderita Covid-19 lainnya. “Intinya pikiran harus ceria. Enggak boleh stres,” pungkas Wahib.
(wk/Bert)

Leave a Reply