Warga Kota Tasik Diminta tak Takut & Panik pada Jenazah Covid-19

INDIHIANG – Direktur RSUD dr Soekardjo, dr Wasisto Hidayat meminta masyarakat tidak panik, apabila ada jenazah pasien Covid-19 yang dikebumikan di wilayahnya.Dia menyebut virus tersebut akan mati dalam hitungan jam ketika sel inang yang disinggahi pun mati.

INDIHIANG – Direktur RSUD dr Soekardjo, dr Wasisto Hidayat meminta masyarakat tidak panik, apabila ada jenazah pasien Covid-19 yang dikebumikan di wilayahnya.
Dia menyebut virus tersebut akan mati dalam hitungan jam ketika sel inang yang disinggahi pun mati.

“Kita lihat di berbagai daerah banyak yang menolak jenazah dikubur di lingkungannya, padahal tidak akan apa-apa karena tim medis sudah memastikan pengemasan jenazahnya sesuai SOP (standar operasional prosedur, Red),” tuturnya kepada Radar, Jumat (3/4).
Dia menjelaskan virus akan hidup lama di sel yang juga masih hidup. Ketika keluar dari sel atau tubuh manusia, melalui batuk atau air liur, sel itu akan mati dalam hitungan 3 sampai 4 jam. “Jadi ibarat orang sudah meninggal itu seperti benda mati karena sel-selnya sudah mati.
Sama saja ketika virus menempel di meja, tembok akan mati dengan sendirinya,” kata Wasisto. Apalagi, lanjut Wasisto, virus tersebut penyebarannya tidak air gone atau terbang, melainkan dari jatuhan orang berbicara atau batuk (droplet). “Sebanyak 82 persen penularannya melalui tangan.
Maka anjuran cuci tangan, tidak menyentuh muka ketika tangan belum steril itu patut diikuti. Sebab, virus bisa masuk lewat mulut, hidung dan mata,” katanya memaparkan. Ia menceritakan penanganan pasien Covid-19 yang meninggal sudah menempuh SOP kesehatan.
Otomatis, bakteri di jenazah akan mati sendirinya di bungkus plastik sebelum sel-sel diurai tanah. “Jadi satu hari jenazah dimakamkan, virus sudah mati. Dalam plastik atau pun peti. Pengantar jenazahnya, harus membersihkan badan dan membuang APD yang dikenakan untuk memastikan kesterilan,” ujarnya.
“Jadi virusnya otomatis mati duluan di bungkus jenazahnya. Tidak akan mencemari air tanah dan lingkungan sekitar,” lanjut dia. Wakil Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Mohammad Adib Khumaidi, sebelumnya, mengusulkan agar pemerintah menyediakan lokasi pemakaman khusus bagi jenazah pasien Covid-19.
Sejumlah kasus penolakan harus dijadikan pembelajaran supaya permasalahan tak semakin besar. “Memang akan lebih mudah seperti itu (pemakaman khusus, Red). Dalam artian tidak mengganggu atau menimbulkan polemik di masyarakat,” katanya di Jakarta, Kamis (2/4). Menurut dia, di luar negeri, jenazah pasien Covid-19 dimakamkan di pemakaman khusus yang telah disediakan. Sebaiknya Indonesia juga menerapkannya.
Dia yakin dengan penyediaan lokasi khusus tidak akan ada lagi penolakan dari warga di sejumlah wilayah di tanah air. “Penolakan, salah satu penyebabnya karena masyarakat takut dan khawatir tertular virus tersebut. Karenanya, pemerintah perlu mengambil langkah bijak agar tidak ada gejolak sosial.
Salah satu solusi yang bisa dilakukan ialah menyiapkan pemakaman khusus,” terangnya. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, sebelumnya, meminta masyarakat memperlakukan jenazah korban Covid-19 dengan penuh penghormatan. Sesuai dengan syariat Islam yang mengajarkan agar mengurus jenazah dengan baik.
“Syariat Islam telah mewajibkan kepada kita, umat Islam harus menghormati jenazah, apalagi sesama umat Islam,” katanya di Jakarta, Rabu (1/4). Untuk itu, siapa pun jenazah yang beragama Islam harus diperlakukan dengan baik, dimandikan dengan bersih dan suci, dikafani dengan syarat-syarat tertentu. Setelah itu dikubur dengan penuh penghormatan dan penghargaan. “Tidak boleh diremehkan atau mendapatkan penghinaan,” katanya.
Dijelaskannya, jenazah yang meninggal akibat Covid-19 harus ditangani tenaga medis dengan betul-betul aman, seperti dibungkus plastik. Kemudian, jenazah harus diantar ke keluarganya. Sementara keluarga yang menerima, tak usah membukanya sesuai aturan medis. “Kemudian kita salati dan kita antar ke kuburan serta dimakamkan dengan penuh penghargaan sesuai jenazah Muslim umumnya,” terangnya.
Bahkan, jenazah juga harus didoakan. Sebab yang meninggal secara syahid. Bagi yang mengurusi jenazah mendapatkan pahala karena mengantarkan dan memakamkan jenazah dengan baik.

“Saya imbau kepada masyarakat, jangan menolak pemakaman jenazah yang meninggal akibat Covid-19, dengan syarat pihak rumah sakit yang menangani sudah betul-betul menjalankan keamanan sesuai aturan medis,” katanya.
Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas meminta pemerintah memberi penjelasan detail dari ahli dan pemerintah mengenai prosedur penanganan jenazah pasien Covid-19. Dia menilai penolakan akibat ketidaktahuan warga mengenai prosedur yang aman untuk menangani jenazah pasien Covid-19. (igi/fin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *