COVID-19, Perang Gerilya pun Butuh Data

Tadi malam, sudah 16 negara — sebelumnya 14 — yang mencatat lebih dari 10 ribu warganya positif terpapar SAR-CoV-2. Dua negara terakhir adalah Kanad

Tadi malam, sudah 16 negara — sebelumnya 14 — yang mencatat lebih dari 10 ribu warganya positif terpapar SAR-CoV-2. Dua negara terakhir adalah Kanada dan Portugal . Dihitung sejak pencatatan kasus ke-1000 (20 Maret 2020), Kanada mencapainya dalam 13 hari (2 April 2020). Sementara Portugal 15 hari (20 Maret 2020 – 4 April 2020). Minggu pagi ini, Brazil menjadi negara ke-17 yang telah melampaui kasus ke 10 ribunya. Mereka melampaui kasus ke 1000 pada tanggal 21 Maret 2020. Berarti, mereka menempuh 14 hari untuk mencapai kasus ke 10 ribunya (4 April 2020). Dengan demikian — diluar Cina dan Korea — rentang waktu dari kasus ke-1000 ke kasus ke-10.000 tetap berlaku pada kisaran 8 hingga 15 hari . Sementara nilai rata-ratanya masih berkisar 11,5 hari . +++ Ada yang menarik pada data worldometers yang ditampilkan beberapa hari belakangan ini. Mereka mulai menambahkan parameter jumlah tes yang dilakukan pada masing-masing negara . Walau pun belum seluruhnya dapat dicantumkan. Jumlah tes terbesar dilakukan di Amerika. Pagi ini sudah tercatat menjangkau 1.632.955 penduduknya.  Diikuti Jerman (918.460), Italia (657.224), Russia (639.606), Korea (455.032), Spanyol (355.000), Canada (317.972), dan seterusnya. Indonesia yang penduduknya berjumlah 273.523.615 jiwa, hingga kemarin malam baru melakukan sebanyak 9.712 tes (tengah malam tadi masih 7.193). Dengan demikin, negara kita baru melakukan 36 tes per 1 juta penduduknya . Nilai tersebut lebih kecil dibanding Filipina (50 tes). Apalagi Thailand (339), Vietnam (775), dan Malaysia (1.532 tes per 1 juta penduduk). Dari 104.134 tes yang dilakukan Austria — penduduk mereka sekitar 9 juta jiwa — jumlah yang kemudian terbukti positif sebanyak 11.781 kasus atau 11,3 persennya. Sementara kasus positif dari hasil tes yang dicatat Jerman yang telah melakukan 10.962 tes per 1 juta penduduknya, maupun Italia yang telah melakiukan 10.870 tes per 1 juta penduduknya, masing-masing adalah 10 dan 19 persen. Angka 2.092 kaaus positif Indonesia yang dicatatkan kemarin — hingga pagi ini belum diperbaharui — setara dengan 22% dari 9.712 tes yang telah kita lakukan. Tes yang dilaporkan worldometers tentunya bukan tes cepat ( rapid diagnostic test ) yang kini sedang digelar di berbagai kota. Sebab yang direkomendasikan WHO adalah yang menggunakan  metode real-time reverse transcriptase Polimerase Chain Reaction atau rRT-PCR . Metode terakhir dinilai lebih akurat. Sementara tes cepat yang yang mencermati antibodi di dalam darah pasien, kerap menyampaikan informasi semu. Sebab, hasilnya mungkin ‘ negatif palsu ‘ jika dilakukan pada waktu yang tidak tepat. Seseorang yang sesungguhnya sudah terpapar, antibodi IgG dan IgM bersangkutan bisa saja terdeteksi negatif. +++ Kita tentu berharap, rasio yang dinyatakan positif terpapar — jika jumlah tes sesuai rekomendasi WHO dilakukan dengan jauh lebih luas — tidak setinggi angka 22% tadi (tadi malam ketika masih tercatat 7.193 tes nilainya 29 persen). Akan tetapi, kita juga tak bisa menutup mata dari indikator yang ditunjukkan Amerika maupun Italia . Kedua negara tersebut semula ragu dalam menerapkan pembatasan mobilitas masyarakatnya dan tidak setanggap sejumlah negara yang sejauh ini dinilai relatif berhasil mengendalikan. Seperti Cina , Korea , dan Singapore . Pada artikel sebelumnya, telah disampaikan kalau Korea adalah satu-satunya — dari 17 negara yang sekarng telah mencatat lebih dari 10 ribu kasus positif — yang mampu memperlambat perluasan Covid-19. Sejak kasus ke-1000 mereka mencapai kasus ke 10 ribu dalam jangka waktu 37 hari. Sementara Singapore yang kini telah mencatat 1.189 kasus, jumlah korban meninggal dunianya hanya 6 jiwa. Worldometers mencatat mereka telah melakukan sebanyak 6.666 tes untuk setiap 1 juta penduduknya yang berjumlah 5.850.342 jiwa. Malaysia yang mencapai kasus ke-1000 pada tanggal 20-3-2020 lalu, hingga hari ini baru mencatat 3.483 kasus dengan angka kematian 57 jiwa. Mereka telah melakukan 49.570 tes atau 1.532 untuk setiap 1 juta penduduknya. Secara jumlah memang 5,1 kali Indonesia. Tapi jika dilihat dari rasio per 1 juta penduduk, mereka telah melakukannya hampir 42,5 kali lipat dibanding kita. Filipina maupun Thailand yang telah melakukan tes per 1 juta penduduk 50 dan 339, mencatatkan  CFR (case fatality rate) sebesar 4,7 dan 1,0 persen. Jauh di bawah Indonesia yang 2 hari belakangan ini masih mencatat angka 9,1 persen. +++ Ada yang menggelisahkan . Mengutip data dari Dinas Pertamanan DKI Jakarta, Reuters kemarin menyampaikan jumlah penguburan warga ibukota per bulan, sejak Januari 2018 hingga Maret 2020. Pada tahun 2018, rata-rata jumlah penguburan yang tercatat adalah 2.774. Lebih rendah dibanding 2019 yang rata-ratanya berjumlah 2.745. Angka penguburan yang tercatat di DKI Jakarta selama bulan Maret 2020 kemarin adalah 4.377 . Meningkat  78% dari bulan sebelumnya (Februari 2020: 2.459). Jika dibanding tahun 2018 dan 2019, kenaikan jumlah penguburan Maret dibanding Februari adalah 13 dan 7 persen.   Peningkatan yang berlangsung di bulan Maret kemarin terbilang sangat tinggi jika dibandingkan bulan yang sama tahun-tahun sebelumnya (51% dibanding Maret 2018 dan 41% dibanding Maret 2019). Sementara perbedaan angka pada bulan Maret 2018 dan Maret 2019 sendiri, hanya 7 persen. Memang tidak ada keterangan yang menjelaskan penyebab kematian mereka yang dikuburkan selama Maret 2020 kemarin.  Menurut informasi yang disampaikan Kawal Covid 2019 Dashboard pagi ini, 1.028 ( 49,1% ) dari 2.092 yang tercatat di Indonesia, berada di Jakarta. Sementara jumlah yang meninggal 46,6 persen . Dengan demikian, CFR Jakarta 8,7% lebih kecil 0,4% dibanding Nasional yang mencatat 9,1 persen. +++ Kita adalah satu-satunya makhluk di dunia yang diberi Tuhan akal dan kecerdasan paling sempurna di di dunia ini. Maka semestinya pula kita tak berdiam diri dihantui ketakutan buta terhadap wabah Covid-19 yang misterius ini. Kepada sahabat yang menyampaikan data jumlah tes yang telah dilakukan negara kita, Malaysia dan Korea pada posting kemarin, saya menyampaikan tanggapan berikut yang kiranya perlu disalin ulang di sini : “Saya selalu bergairah melihat data. Untuk menelisik dan mencermatinya lebih jauh. Dibalik data, biasanya terungkap hal-hal penting. Juga gagasan-gagasan yang bermanfaat bagi kehidupan yg lebih baik./ Hal yang menyulitkan adalah ketika data maupun informasi tak cukup tersedia. Kita seperti berjalan di ruang yang gelap./ Dalam kegelapan, kepanikan yang paling cepat menular. Bahkan memicu kemarahan ketika ada diantaranya yang mencoba meraba-raba. Padahal sikap diam dan mematung dalam kegelapan hanyalah bentuk lain dari bunuh diri.” Kita memang harus bekerja sangat keras untuk menghadapinya. Pertama-tama dan paling utama: perbaiki dan sempurnakanlah sistem pendataan segera! Mardhani, Jilal 5 April 2020

Leave a Reply