Gugus Tugas Tracing Kontak Pasien Corona yang Meninggal

PROKAL.CO
, JURU Bicara (Jubir) Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kalimantan Utara (Kaltara), Agust Su

PROKAL.CO
, JURU Bicara (Jubir) Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kalimantan Utara (Kaltara), Agust Suwandy menyampaikan, hasil uji 5 sampel terakhir yang dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya telah keluar.
Baru kami terima data hasil pemeriksaan BBLK Surabaya bahwa lima sampel terakhir dari 13 sampel yang sudah dikirimkan itu hasilnya dinyatakan negatif, ujar Agust kepada Radar Tarakan melalui WhatsApp pribadinya, Sabtu (4/4).
Oleh karena itu, delapan kasus positif yang ada sebelumnya belum ada pertambahan. Sementara untuk pasien dalam pengawasan (PDP) yang masih dirawat di 5 kabupaten/kota di Kaltara sebanyak 12 orang (lihat grafis).
Untuk yang ODP (orang dalam pemantauan), itu berjumlah 321. Jumlah ini tersebar di 5 kabupaten kota dengan jumlah terbanyak di Tarakan, yakni 95 orang dan yang paling sedikit di Bulungan dengan jumlah 29 orang, sebutnya.
Selain itu, Agust juga menjelaskan bahwa untuk penyampaian identitas pasien positif Covid-19 itu sudah diatur dalam undang-undang (UU) yang salah satunya UU Praktik Kedokteran, sehingga pihaknya hanya menyampaikan inisial. Harap dimaklumi dan dipahami keberadaan aturan ini, tuturnya.
Merunut perjalanan pasien positif berinisial DS di Bulungan, ketika sampai pelabuhan di Tanjung Selor, langsung dibawa ke RSD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo, Tanjung Selor untuk diisolasi. Sehingga tak sempat ada kontak dengan siapa-siapa, termasuk dengan keluarganya.
Jadi, tidak perlu ada kekhawatiran warga Tanjung Selor yang merasa kontak dengan yang bersangkutan, jelasnya.
Sebagai upaya pencegahan, Gugus Tugas juga membuka ruang konsultasi terkait di Badan Pendidikan dan Pelatihan (Bandiklat) atau Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Bulungan. Ini (posko konsultasi) dibuka mulai hari ini (kemarin) hingga Senin (6/4), tuturnya.
Masyarakat diharapkan dapat menaati protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah guna mendukung pemutusan rantai penyebaran Covid-19.
Jaga jarak aman ketika berinteraksi dengan orang lain. Termasuk ASN (aparatur sipil negara) yang WFH (work from home/bekerja dari rumah) diharapkan tetap taat dan tidak berkeliaran ke mana-mana, imbuhnya.
Demikian juga dengan orang-orang yang melakukan isolasi diri secara mandiri, diharap menaati apa yang sudah menjadi ketentuan. Intinya, butuh kerja sama dari semua pihak dalam menangani atau memutus rantai penyebaran Covid-19 ini.
Sementara di Tarakan, dua sampel pasien dalam pengawasan (PDP), yakni milik pasien ke-9 dan pasien ke-10 dinyatakan negatif Covid-19.
Yang sebelumnya diketahui pasien ke-9 ini kontak erat dengan pasien ke-7, yang juga hasil pemeriksaan laboratoriumnya negatif. Sementara pasien ke-10 kontak erat dengan pasien M atau kasus positif Covid-19.
Dua sampel pasien 9 dan pasien 10 hasilnya negatif. Tapi masih dirawat di RSUD Tarakan, mungkin ada penyakit lainnya yang memerlukan perawatan, terang Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covd-19 Tarakan, dr. Devi Ika Indriarti, M. Kes.
Sementara dua sampel lainnya, yakni pasien ke-11 dan pasien ke-12 masih menunggu untuk dilakukan pengambilan swab. Kedua pasien ini baru masuk ke RSUD Tarakan pada Kamis (2/4) lalu, dengan riwayat perjalanan dari daerah terjangkit yakni Balikpapan dan Makassar, serta menunjukkan gejala batuk dan sesak napas.
Total PDP Tarakan 12 orang, yang terkonfirmasi negatif ada 9 orang, terkonfirmasi positif 1 orang (pasien M), dan 2 orang masih menunggu hasil pemeriksaan spesimen, katanya.
Lanjutnya, kondisi pasien M atau pasien positif Covid-19 masih berada di dalam ruang isolasi RSUD Tarakan terus membaik. Untuk pengambilan swab kedua dan ketiga, kebijakan dari rumah sakit dengan melihat perkembangan kondisi pasien saat memungkinkan untuk dilakukan pengambilan sampel. Sesuai dengan prosedur tetap (protap), pasien yang sebelumnya positif Covid-19 ini, dapat dikatakan sehat apabila telah dilakukan dua kali pengambilan sampel dan dua kali hasilnya negatif.
Bukan dilihat dari harinya, tapi dilihat dari kondisi tertentu untuk pengambilan swab. Itu dari dokter dan pihak rumah sakit yang memutuskan untuk pengambilan swab-nya, lanjutnya.
Terkait 11 eks jemaah tablig akbar Gowa, Sulsel yang diisolasi di Rumah Sakit Umum Kota Tarakan (RSUKT) sejak Kamis (2/4) lalu, hingga saat ini dalam kondisi baik. kemudian Jumat (3/4) kemarin, 1 jemaah, yang juga merupakan rombongan penumpang Kapal Motor (KM) Lambelu menyusul diisolasi di RSUKT, lantaran kontak erat dengan empat pasien positif di Nunukan.
Ke-12 jemaah tablig akbar ini sudah dilakukan pengambilan swab dan dikirim ke BBLK Surabaya. Sementara menunggu hasil pemeriksaan laboratorium, ke-12 jemaah ini tetap diisolasi di RSUKT.
Kemarin (Jumat) kami sudah ambil swab 5 jemaah, dan hari ini (Sabtu) kami sudah ambil 7 sampel. Jadi ada 12 sampel jemaah masih menunggu hasil. Kami juga sudah sampaikan ke tetangganya, agar tidak mengucilkan keluarga mereka, tapi tetap jaga jarak dan social distancing ke semua orang, bebernya.
Tracing (penelusuran) kontak penumpang KM Lambelu yang tiba di Tarakan Sabtu (28/3) pekan lalu terus dilakukan. Adapula penumpang yang inisiatif melaporkan diri melalui hotline, dan tetap dilakukan pemantauan.
Ada beberapa yang melaporkan diri, tapi jumlah pastinya berapa belum tahu. Tracing terus dilakukan, kami harus pastikan lagi karena bisa saja penumpang turun di Tarakan, tapi melanjutkan perjalanan ke Bulungan dan daerah lainnya, katanya.
Lantas seperti apapula tracing kontak warga Tarakan yang kemungkinan sempat kontak dengan pasien meninggal dan positif covid-19 di Bulungan? dr. Devi mengaku ada warga Tarakan yang melaporkan diri pernah kontak dengan pasien yang meninggal tersebut. Namun lagi-lagi tak dapat ia beberkan berapa orang yang inisiatif melaporkan diri dan perkembangan tracing-nya.
Kami tetap lakukan tracing yang sempat kontak erat dengan pasien yang meninggal di Bulungan. Kapan dia kontak, yang melaporkan lumayan banyak, jelasnya singkat.
Sementara itu, perkembangan kasus Covid-19 Tarakan per Sabtu (4/4), orang dalam pemantauan (ODP) sebanyak 120 orang. ODP yang sudah selesai menjalani masa pemantauan atau 14 hari sebanyak 25 orang dengan dinyatakan sehat. Kemudian masyarakat yang melaporkan diri melalui hotline mencapai 502 orang, dan terus dilakukan pemantauan kondisi.
PEMERIKSAAN HINGGA 2 JAM
Sementara Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), terhadap 620 penumpang KM Lambelu yang tiba di pelabuhan Tarakan pada 28 Maret 2020, ternyata memakan waktu hingga 2 jam. Hal tersebut dikarenakan kurangnya petugas dan keterbatasan alat pemeriksa KKP.
Kepala KKP Tarakan, Hidayat mengatakan sejak menerima informasi tentang kedatangan penumpang KM Lambelu, KKP langsung bergerak dengan berkoordinasi bersama dengan nahkoda dan kru kapal Pelni untuk memisahkan antara 41 jemaah tablig eks ijtima Gowa, Sulsel dengan penumpang lainnya.
Jemaah tablig ini sudah ditempatkan di geladak kapal yang sudah ditentukan oleh kru kapal, ungkapnya.
KKP meminta agar tidak ada satu orang pun yang naik ke atas kapal kecuali tim kesehatan dari KKP. Saat itu, KKP mengeluarkan 7 anggotanya untuk memeriksa 620 penumpang kapal yang akan turun di Tarakan.
Kami periksa semuanya, termasuk 41 jemaah tablig itu, tuturnya.
Dalam melakukan pemeriksaan, KKP fokus pada suhu tubuh dan kesehatan penumpang. Penumpang yang turun di Tarakan dinyatakan berbadan sehat dan tidak menunjukkan gejala terinfeksi Covid-19. Sehingga setiap penumpang tersebut akhirnya diturunkan dari kapal tetapi harus melalui bilik disinfektan dan kemudian diserahkan langsung ke Gugus Tugas.
Hidayat mengungkapkan adanya kendala yang dihadapi KKP saat menjalankan pemeriksaan yakni keterbatasan peralatan dan sumber daya manusia (SDM). Seluruh penumpang kami periksa, bukan hanya yang turun di Tarakan saja loh ya? Waktu itu kami tidak membedakan mana yang jemaah tablig. Intinya seluruh penumpang kami periksa. Kalau kami (petugas KKP) lebih banyak orang, mungkin lebih cepat pemeriksaannya, ucapnya.
Hidayat menjelaskan bahwa pada beberapa kasus, orang positif Covid-19 justru yang menunjukkan adanya gejala. Biasa disebut orang tanpa gejala (OTG). Bisa saja selama masa inkubasi, di badannya tidak muncul gejala. Tapi setelah itu baru muncul gejala, jelasnya.
Dalam hal ini, Hidayat menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan sesuai prosedur dan kinerja KKP. Untuk itu, seluruh penumpang selanjutnya diserahkan kepada Gugus Tugas covid-19. (iwk/*/one/shy/lim)

Leave a Reply