Iran Jadi Negara dengan Kematian Tertinggi Keenam akibat COVID-19, Lampaui China

Setelah Italia, Spanyol, AS, Prancis, Inggris, kini Iran menjadi negara keenam dengan kematian tertinggi akibat COVID-19, melampaui China.

AKURAT.CO,
Di saat China telah berhasil mengontrol pandemi, beberapa negara tampaknya masih berupaya keras berperang melawan virus. Data Worldometer per Minggu (5/4) memperlihatkan beberapa negara memiliki jumlah kematian akibat
COVID-19
yang melebihi China. Setelah Italia, Spanyol, Amerika Serikat (AS), Prancis, Inggris, kini
Iran
menjadi negara keenam dengan kematian tertinggi akibat
COVID-19
, melampaui China.
Iran
mencatatkan 55.743 kasus dengan 3.452 kematian. Sementara Inggris, meski memiliki jumlah kasus yang lebih sedikit dari
Iran
namun angka kematiannya lebih tinggi, yakni di angka 4.313 jiwa. Sedangkan China kini mencatatkan 81.669 kasus dengan 3.329 kematian.
Saat ini kasus jumlah tertinggi berada di AS. Meski demikian, Italia menjadi negara dengan kematia tertinggi. Italia mencatatkan 124.632 kasus dengan 15.362 kematian. Angka kematian di Italia mencakup 23 persen angka kematian global. Sementara Spanyol mencatatkan jumlah kasus yang melebihi Italia, yakni 126.168 kasus namun dengan kematian lebih rendah di angka 11.947.
AS sejauh ini telah mencatatkan 311.635 kasus dengan 8.454 kematian. Sedangkan Prancis memiliki 89.953 kasus dengan 7.560 kematian. Menyusul di bawahnya Inggris dengan total 41.903 kasus dan 4.313 kematian. Jumlah kasus di Inggris lebih rendah daripada
Iran
, namun kematiannya lebih tinggi. Sedangkan
Iran
kini mencatat 55.743 kasus dengan 3.452 kematian.
China diketahui berhasil menekan kasus baru per hari
COVID-19
setelah sebelumnya menjadi pusat pandemi. Selama beberapa pekan terakhir, hanya ada 2 hingga 3 kasus dalam sehari, itu pun tidak lagi muncul setiap hari. Padahal, pada Februari, ada ribuan kasus baru per hari yang tercatat.
Komisi Kesehatan Nasional China pernah melaporkan di bulan Maret hanya lima kasus domestik (local transmission) baru dalam sepekan. Bahkan seperti dilaporkan Xinhua, pada 31 Maret ke belakang, selama sepekan China berhasil memiliki 0 kasus baru.[]

Leave a Reply