Pilihan Bahasa dan Virus Corona

“Dalam membuat pidato seseorang harus mempelajari tiga hal, pertama media membuat ajakan, kedua bahasa dan ketiga pengaturan yang baik dari berbagai b

“Dalam membuat pidato seseorang harus mempelajari tiga hal, pertama media membuat ajakan, kedua bahasa dan ketiga pengaturan yang baik dari berbagai bagian pidato.” Aristoteles Secara umum bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan seseorang untuk berinteraksi dengan orang lain. Sebagai alat komunikasi, penutur bahasa menginginkan bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dapat dimengerti oleh lawan tuturnya. Untuk iu, penutur harus melihat siapa lawan tutur yang ada di hadapannya, sehingga penutur juga dapat memikirkan bahasa yang baik untuk digunakan. Penggunaan bahasa oleh penutur dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti penutur, lawan tutur, usia, kelas sosial, pendidikan, situasi  dan media yang digunakan. Faktor yang menentukan bahasa penutur dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika anak berbicara dengan orang tua, akan berbeda saat anak berbica dengan temannya. Dari faktor-faktor itu pula muncul istilah bahasa yang baik, dimana bahasa yang digunakan harus sesuai dengan situasi dan kondisi. Bahasa sebagai produk budaya akan terus berkembang seiring perkembangan zaman yang disertai perkembangan teknologi dan informasi. Sekait dengan perkembangan tersebut, saat ini berbagai negara termasuk Indonesia sibuk menganggulangi penyebaran virus Corona. Virus yang tergolong baru ini menyebabkan munculnya istilah-istilah baru mengenai pandemi virus corona, misalnya lock down dan physical distancing , dan lainnya. Istilah teknis yang mungkin sebagian orang mengerti dan sebagian yang lain tidak. Masalah lain dari efek virus corona adalah sikap sebagian masyarakat yang masih apatis terhadap pandemi virus corona. Akibatnya, imbauan dari pemerintah kurang begitu diindahkan. Masalah ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, dan kota-kota lain, tetapi di daerah pun seperti itu. Kurangnya literasi informasi kesehatan menjadi salah satu faktor penyebabnya. Sikap apatis masyarakat ini dapat terjadi karena dua faktor, yaitu karena memang pada dasarnya bersikap acuh tak acuh terhadap imbauan pemerintah atau apatis karena masyarakat tidak memahami  apa yang disampaikan oleh pemerintah. Untuk mengatasi masalah tersebut, peran bahasa sangat penting. Pilihan dan gaya bahasa yang tepat akan menunjukkan ikatan emosional dan keakraban antarpenggunanya dan pesan yang disampaikan lebih mudah dimengerti. Sebagai masyarakat yang umumnya dwibahasawan, yang menguasai bahasa Indonesia dan bahasa daerah, pilihan bahasa daerah untuk corona dapat menjadi pilihan ketika menyampaikan informasi berkaitan dengan pandemi virus corona, baik yang berupa medis maupun teknis. Pilihan bahasa daerah untuk menunjukkan kedekatan antarpengguna sehingga lebih mudah memengaruhi lawan tutur ketika berbicara agar  mengikuti keinginan penutur saat menjelaskan masalah pandemi virus corona. Selain itu, pilihan bahasa daerah juga dapat dimaksudkan agar lawan tutur lebih mudah mengerti apa yang dibicarakan penutur daripada menggunakan bahasa Indonesia. Terlebih lagi jika di daerah, masyarakat lebih menggunakan bahasa daerah daripada bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Pilihan bahasa daerah juga dapat menyesuaikan dengan faktor-faktor pilihan bahasa yang telah disebutkan di atas, seperti usia dan pendidikan. Dari segi pendidikan tidak semua orang di daerah apalagi di desa mendapatkan pendidikan di sekolah terutama orang tua. Dari segi usia juga seperti itu, anak-anak kecil di lebih menggunakan bahasa daerah daripada bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua biasanya diperoleh di sekolah. Maka dari itu, pilihan bahasa daerah sebagai bahasa kedua untuk menyampaikan pesan dari pemerintah terhadap masyarakat tidak bisa dinafikan lagi. Bahasa daerah sebagai alat komunikasi antarindividu dalam satu kelompok dan wilayah dapat menjadi pendukung bahasa Indonesia yang berstatus bahasa nasional. Lalu tugas siapakah yang harus menerjemahkan dan menyampaikan dalam bentuk bahasa daerah? Sebagai negara yang bergotong royong, maka tugas menerjemahkan dan menyampaikan agar masyarakat mengerti menjadi tugas bersama. Pemerintah daerah dapat menjadi pelopor penggunaan bahasa daerah dalam usaha penekanan jumlah kasus virus corona. Masyarakat yang memahami dapat menjadi penggerak untuk pemahaman bersama. Kesinergian dalam menghadapi dan menyelesaikan kasus ini menjadi tugas seluruh lapisan masyarakat.

Leave a Reply