140 Daerah Belum Mengganggarkan Penanganan Covid-19

JAKARTA – Presiden Joko Widodo meminta Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian untuk lebih tegas dalam menyikapi komitmen daerah dalam penanganan virus corona Selengkapnya
The post 140 Daerah Belum Mengganggarkan Penanganan Covid-19 appeared first on Radar Tegal Online .

Berikut Ciri-ciri Orang Terpapar Corona

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM — Hingga 14 April 2020, jumlah kasus positif virus corona di Indonesia kembali meningkat. Tercatat ada 4.838 kasus positif di Indonesia dan 459 kasus kematian akibat COVID-19. 

Meningkatnya kasus positif COVID-19 di Indonesia membuat masyarakat waspada termasuk dengan gejala atau ciri seseorang terpapar virus corona. Lalu, apa saja ciri-ciri seseorang terkena corona yang harus diwaspadai? Dilansir dari laman Viva.co.id, Rabu (15/4/2020), berikut ini beberapa ciri-ciri seseorang terkena virus corona. 

Demam

Deman menjadi salah satu gejala utama atau ciri-ciri seseorang terkena COVID-19. Ciri demam dari kasus ini adalah suhu tubuh yang mencapai 37,7 derajat celsius (dewasa dan anak). Pengecekan suhu tubuh seseorang dapat dikatakan demam atau tidak sebaiknya dilakukan pada sore hari.

Batuk

Ciri lainnya seseorang terkena corona adalah batuk. Batuk yang dimaksudkan adalah batuk kering yang dirasakan hingga ke dada. 

“Batuknya berasal dari tulang dada atau sternum. Kamu bisa tahu bahwa saluran bronkial meradang atau teriritasi,” kata Schaffner.

Sulit bernapas

Sulit bernapas jadi tanda serius seseorang terkena virus corona jenis baru ini. Sulit bernapas di sini maksudnya adalah ketika dada terasa begitu sesak atau ketika kamu merasa seolah-olah tidak bisa bernapas cukup dalam. 

“Jika ada sesak napas segera hubungi fasilitas layanan kesehatan,” kata Presiden Asosiasi Medis Amerika Dr. Patrice Harris.

Selain tiga gejala di atas, ada beberapa gejala lain yang perlu diwaspadai. Beberapa di antaranya bisa saja flu, sakit kepala, masalah pencernaan, badan sakit dan mudah lelah, alergi, seperti pilek, sakit tenggorokan dan bersin.

Ansomia

Gejala yang mungkin tidak umum dan mencirikan terpapar virus corona antara lain anosmia. Anosmia merupakan gejala terganggunya indera penciuman. Selain itu juga dysgeusia bisa juga menjadi ciri yang tidak umum lainnya. 

Mata merah muda

Gejala tidak umum lainnya adalah mata merah muda. Mata merah muda ini terjadi karena adanya peradangan pada lapisan jaringan yang tipis dan transparan, yang disebut konjungtiva, yang menutupi bagian putih mata dan bagian dalam kelopak mata.

Laporan dari Tiongkok dan seluruh dunia menunjukkan bahwa sekitar 1-3 persen orang dengan COVID-19 juga menderita konjungtivitis.

Diare

Belum lama ini salah satu gejala yang tidak umum seseorang terpapar virus corona adalah diare.

“Dalam sebuah studi di luar China beberapa pasien, sekitar 200 pasien, mereka menemukan bahwa gejala pencernaan (gastrointestinal) terjadi di sekitar setengah dari pasien COVID-19,” kata CNN Chief Medical Correspondent Dr. Sanjay Gupta. (*)

Sepekan Dirawat, Warga Kukar PDP Corona Meninggal

Dari riwayat perjalanan, pasien itu diketahui usai melakukan perjalanan dari Jawa Timur. Melalui uji cepat atau rapid test, diketahui hasilnya negatif. Namun seiring waktu, kondisinya mengalami perburukan 2 hari terakhir sebelum meninggal. Medis pun sempat mengambil spesimen swab pada Minggu (13/4).

IMF: Corona Seret Perekonomian Global ke ‘Jurang’ Resesi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM — Pandemi virus corona yang melanda seluruh dunia telah menyeret perekonomian global ke ‘jurang’ resesi. Dana Moneter Dunia (International Monetary Fund/IMF) mengungkap virus corona telah membuat ekonomi global terpuruk.

Bahkan lebih buruk dari Depresi Besar (Great Depression) yang terjadi pada 1930. Sembilan dekade lalu, perekonomian dunia pun masuk jurang resesi.

Peristiwa yang dikenal dengan nama Depresi Besar atau Zaman Malaise dimulai saat perekonomian dunia jatuh akibat anjloknya bursa saham New York pada akhir 1929.

Depresi bursa efek tersebut turut menyeret ekonomi negara industri hingga negara berkembang hingga hancur. Volume perdagangan internasional terpukul, pendapatan pajak hingga perseorangan anjlok. Kondisi depresi tersebut mulai mereda saat Perang Dunia II.

Kini, para ekonom melihat kondisi yang jauh lebih ‘menyeramkan’ dari 90 tahun lalu. IMF telah mengeluarkan peringatan resesi bisa terjadi hingga 2021 jika para pembuat kebijakan gagal melakukan koordinasi global untuk bertahan dari virus corona.

“Bahkan resesi tersebut bisa jauh lebih buruk dari krisis keuangan global pada 2008,” tulis IMF dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (15/4/2020).

IMP memperkirakan PDB akan terkontraksi sebesar 3 persen pada tahun ini. Proyeksi ini berubah 180 derajat dari proyeksi awal tahun yang masih optimis tumbuh 3,3 persen tahun ini.

“Lockdown (penguncian besar) diproyeksikan menyusutkan pertumbuhan global secara dramatis. Akan terjadi pemulihan secara parsial pada 2021. Namun, tingkat PDB akan tetap berada di bawah tren sebelum hadirnya virus corona,” papar IMF.

IMF melihat dunia sedang berada dalam tahap awal krisis ekonomi paling parah dalam hampir seabad. IMF melihat angka pengangguran di Amerika Serikat akan meningkat menjadi 10,4 persen dan 9,1 persen pada tahun 2021.

Beberapa negara mulai mengambil langkah untuk ‘menyerang’ balik pandemi virus corona. Di Amerika Serikat, misalnya, sebagai epicentrum baru wabah covid-19, anggota parlemen telah memberikan lampu hijau untuk memberikan stimulus hingga US$2 triliun.

Jumlah ini belum termasuk stimulus yang telah dirogoh The Fed untuk menjaga sistem keuangan. Kondisi tersebut membuat IMF memproyeksikan ekonomi menyusut sebesar 5,9 persen tahun ini dan terburuk sejak 1946 di AS.

Sedangkan China, di mana awal virus corona ‘lahir’ diperkirakan membuat pertumbuhan ekonominya menjadi 1,2 persen. Negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut akan mengalami pelemahan yang terburuk sejak 1976.

Prospek ‘suram’ bahkan bisa terjadi di negara yang pemerintah dan bank sentral telah cepat merespons pandemi corona dengan upaya membantu pekerja dan bisnis. Misalnya, di Jerman. IMF memperkirakan ekonomi Jerman, yang terbesar di Eropa, akan berdampak cukup tinggi. Diperkirakan perdagangan internasional Jerman bisa kontraksi sebesar 7 persen pada tahun ini.

Di Kanada, ekonomi diproyeksi menyusut hingga 6,2 persen. Sedangkan, Inggris diproyeksi menyusut 6,5 persen. Di Asia, Jepang sebagai negara ekonomi terbesar ketiga dunia diprediksi mengalami kontraksi sebesar 5,3 persen.

Walaupun, negara matahari terbit ini telah melakukan berbagai upaya untuk menghindari opsi ‘lockdown’ yang membuat sebagian kegiatan ekonomi dunia lumpuh.

Negara-negara Uni Eropa telah melakukan berbagai upaya dan merogoh kocek yang dalam untuk terus ‘mengguyur’ perusahaan dan rumah tangga. Negara tersebut telah mengurangi batasan defisit anggaran agar memungkinkan pinjaman uang yang lebih besar.

Sayangnya, Spanyol dan Italia sudah terpukul terlebih dahulu oleh virus corona. Spanyol akan mengalami penurunan ekonomi hingga 8 persen. Sementara Italia mencapai 9,1 persen. Kedua negara ini harus segera menemukan cara untuk memulihkan perekonomian.

Pulih pada 2021

IMF memperkirakan ekonomi global akan pulih pada 2021, dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,8 persen jika pandemi mereda pada paruh kedua tahun ini. Namun, IMF memperingatkan bahwa proyeksi tersebut sangat tidak pasti.

“Pandemi dapat lebih persisten daripada yang diperkirakan. Selain itu, efek dari krisis kesehatan pada aktivitas ekonomi dan pasar keuangan bisa menjadi lebih kuat dan lebih tahan lama,” papar IMF.

Dampak virus corona akan menguji batas-batas bank sentral untuk menjaga sistem keuangan dan meningkatkan beban fiskal dari goncangan. ‘Bekas luka’ ini akan berpengaruh pada kepercayaan konsumen. Sehingga, perusahaan dan rumah tangga dapat mengubah perilaku mereka.

“Perubahan ini dapat membuat lemahnya permintaan dan gangguan pada rantai pasokan,” jelas IMF.

Bahkan lebih jauh, ‘luka’ tersebut bisa mengakibatkan pengurangan investasi dan kebangkrutan. IMF menegaskan pentingnya respon global untuk meringankan trauma ekonomi.

Salah satunya, pemerintah dan pejabat kesehatan masyarakat untuk meningkatkan kerja sama mereka.

“Negara-negara sangat perlu bekerja sama untuk memperlambat penyebaran virus dan mengembangkan vaksin dan terapi untuk melawan penyakit. Sampai intervensi medis semacam itu tersedia, tidak ada negara yang aman dari pandemi,” kata laporan IMF.

IMF merekomendasikan agar pemerintah membelanjakan lebih banyak dana pada pengujian, mempekerjakan kembali para pensiunan profesional medis dan membeli peralatan seperti ventilator dan peralatan perlindungan pribadi. Pembatasan perdagangan pada produk medis harus dicabut.

IMF memuji negara-negara maju termasuk Australia, Prancis, Jerman, Italia, Jepang dan Amerika Serikat atas respons fiskal mereka terhadap krisis. Selain itu, mereka pun memberi kredit kepada China, Indonesia, dan Afrika Selatan.

“Langkah-langkah fiskal perlu ditingkatkan jika penghentian aktivitas ekonomi sama,” pungkas IMF. (*)

Finding common sense and compassion in the time of Covid-19

APRIL 15 — The longer the movement control order (MCO) continues, the more fragile our collective consciousness is becoming. While it’s great that many civilians are stepping up to fill the welfare gaps the current government did not consider before announcing the MCO, what is not so great is how…